STADIUM HOPPING: 24 Jam, 3 Negara, dan Pengejaran Peluit yang Mustahil


Categories :

Bagi sebagian orang, perjalanan antarnegara adalah soal paspor dan koper. Namun, bagi penganut groundhopping subkultur gila di kalangan suporter sepak bola perjalanan adalah soal sinkronisasi antara Google Maps, jadwal kereta, dan peluit kick-off. Pekan lalu, saya memutuskan untuk melintasi perbatasan Jerman, Belgia, dan Belanda dalam satu putaran waktu 24 jam. Tujuannya satu: merasakan tiga atmosfer tribun yang berbeda sebelum matahari terbenam.

Matinée di Nordrhein-Westfalen (Jerman)

Petualangan dimulai pukul 11:00 di sebuah stadion kecil di pinggiran Dortmund. Di Jerman, sepak bola adalah agama, bahkan di kasta rendah sekalipun. Bau sosis bratwurst yang terbakar di atas panggangan arang memenuhi udara. Penonton berdiri dengan segelas bir di tangan, meneriakkan yel-yel yang sinkron dan berat. Di sini, sepak bola terasa sangat industrial; presisi, bersih, namun meledak-ledak. Begitu peluit panjang berbunyi, tak ada waktu untuk merayakan kemenangan. Saya harus segera lari ke parkiran.

Transit dan Kegelisahan di Perbatasan Belgia

Pukul 15:30, saya sudah berada di tribun kayu tua di wilayah Liege, Belgia. Perbedaannya sangat kontras. Jika Jerman adalah tentang kemegahan modern, Belgia adalah tentang romansa masa lalu. Stadionnya mungkin sedikit “berdebu” dan kursinya tidak senyaman di Westfalen, tapi gairahnya sangat liar. Di sini, saya mencoba frites (kentang goreng) legendaris mereka sambil melihat suporter tuan rumah yang lebih ekspresif dan sporadis. Ada rasa kekeluargaan yang aneh di tengah teriakan bahasa Prancis dan Flemish yang bersahutan.

Drama Malam di Tanah Belanda

Matahari mulai turun saat saya memacu kendaraan menuju Rotterdam, Belanda. Pukul 20:00, saya berdiri di bawah lampu sorot De Kuip yang ikonik. Stadion ini berguncang secara harfiah. Suporter Belanda dikenal karena koreografi mereka yang artistik dan penggunaan warna oranye atau warna klub yang sangat dominan. Di sini, sepak bola adalah pertunjukan seni sekaligus perang mental. Saat peluit akhir dibunyikan di negara ketiga ini, kaki saya mati rasa, namun adrenalin masih memuncak.


Mengapa Harus Melakukannya?

Stadium Hopping bukan soal statistik siapa yang menang. Ini adalah tentang mengoleksi memori visual: perbedaan cara orang bersorak, aroma kuliner tribun yang berganti dari gurih ke asin, hingga transisi bahasa hanya dalam hitungan jam. Ini adalah bukti bahwa meski hanya dipisahkan garis batas tipis, sepak bola punya “wajah” yang berbeda di setiap koordinatnya.